tabooo.net
  • Home
  • Company
    • Ecosystem
    • Team
    • Portfolio
    • FAQs
  • CEO Desk
tabooo.net
  • Home
  • Company
    • Ecosystem
    • Team
    • Portfolio
    • FAQs
  • CEO Desk
No Result
View All Result
tabooo.net
No Result
View All Result

PT Tabooo Network Indonesia Hadirkan Tabooo Cultural Production 2026 di Kota Madiun

Tradisi Harus Dicatat, Dipahami, dan Dikembangkan untuk Menjadi Wariskan Melampaui Generasi

Presenter speaks into a microphone at a conference stage with a large 'From Reality to Narrative' banner behind him/her.

PT Tabooo Network Indonesia menghadirkan Tabooo Cultural Production di Kota Madiun, Senin - Selasa (6-7 Juli 2026).

MADIUN — Tradisi yang hanya dirayakan akan selesai bersama panggung. Tradisi yang dicatat, dipahami, dan dikembangkan dapat diwariskan melampaui generasi.

Berangkat dari gagasan tersebut, PT Tabooo Network Indonesia menghadirkan Tabooo Cultural Production 2026 dalam rangkaian Bersih Desa Winongo di Kota Madiun. Program ini telah diselenggarakan selama dua hari, pada 6–7 Juli 2026.

Tabooo Cultural Production tidak berhenti pada dokumentasi kegiatan. Program ini dirancang sebagai ekosistem produksi budaya yang menghubungkan masyarakat, tradisi, kreativitas, pengetahuan, literasi, produksi visual, serta pengembangan intellectual property berbasis budaya lokal.

Melalui tema “From Reality to Narrative”, PT Tabooo Network Indonesia mengajak masyarakat untuk melihat tradisi bukan hanya sebagai tontonan tahunan, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dapat dicatat, dibaca, dikembangkan, dan diwariskan.

 

Dokumentasi Menjadi Awal Pengetahuan

Setiap tradisi menyimpan lebih banyak cerita daripada yang terlihat di atas panggung.

Prosesi budaya memperlihatkan bentuk luarnya. Namun, nilai, pengalaman, dan pengetahuan yang membentuk tradisi sering kali hanya hidup dalam ingatan para sesepuh, pelaku budaya, dan masyarakat setempat.

Melalui Tabooo Cultural Production, tim produksi merekam berbagai prosesi budaya dalam rangkaian Bersih Desa Winongo 2026. Wawancara dilakukan untuk menggali sejarah, pengalaman, serta nilai yang selama ini diwariskan secara lisan.

Catatan, foto, rekaman suara, wawancara, dan dokumentasi visual tersebut kemudian diarahkan menjadi arsip budaya yang dapat dipelajari kembali oleh masyarakat, pelajar, peneliti, komunitas, maupun generasi berikutnya.

Dokumentasi bukan hasil akhir. Dokumentasi adalah bahan dasar pengetahuan.

 

Tradisi Tidak Berakhir Setelah Festival

Kirab budaya, doa bersama, pertunjukan seni, dan berbagai kegiatan masyarakat selalu mampu menarik perhatian publik. Namun, perhatian tersebut sering berakhir ketika panggung dibongkar dan masyarakat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

Unggahan media sosial mungkin terus bertambah. Akan tetapi, cerita di balik tradisi dapat perlahan menghilang apabila tidak pernah dicatat secara terstruktur.

Tabooo Cultural Production mengambil posisi berbeda.

Program ini mengubah perayaan menjadi proses produksi pengetahuan. Realitas yang terjadi di tengah masyarakat direkam. Fakta dikembangkan menjadi narasi. Narasi kemudian diarahkan menjadi karya yang dapat hidup setelah festival berakhir.

Dengan pendekatan tersebut, Bersih Desa Winongo tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran, produksi kreatif, dan pengembangan identitas budaya.

 

Desa sebagai Ruang Produksi Kreatif

Budaya lokal tidak harus berhenti sebagai objek dokumentasi. Budaya juga dapat menjadi dasar lahirnya karya, kolaborasi, dan nilai ekonomi baru.

Melalui ekosistem produksi yang terbuka, penulis dapat mengembangkan kisah lokal menjadi buku atau karya jurnalistik. Fotografer dapat menerjemahkan tradisi ke dalam arsip visual. Sineas dapat mengolah realitas masyarakat menjadi film dokumenter. Akademisi dan komunitas sejarah dapat memperkaya kajian melalui penelitian dan diskusi.

Kolaborasi tersebut memperkuat posisi desa sebagai ruang produksi pengetahuan.

Masyarakat tidak hanya menjadi objek yang direkam. Masyarakat menjadi pemilik cerita, pelaku produksi, dan bagian utama dalam proses pewarisan budaya.

Pada tahap berikutnya, dokumentasi dan pengetahuan tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk intellectual property, mulai dari film, buku, arsip digital, pameran, forum budaya, hingga produk kreatif yang tetap berpijak pada nilai lokal.

 

Dua Agenda Utama Tabooo Cultural Production

Tabooo Cultural Production menghadirkan dua agenda utama, yaitu Tabooo Cinema Lab dan Tabooo Book Club.

Kedua program tersebut menggunakan pendekatan yang berbeda, tetapi bergerak menuju tujuan yang sama: membangun keberanian untuk membaca realitas, mengubahnya menjadi narasi, dan mengembangkannya menjadi pengetahuan serta karya.

 

Tabooo Cinema Lab: Merdeka Membaca dan Merekam Realitas

Tabooo Cinema Lab menghadirkan Workshop Pembuatan Film Dokumenter pada Senin, 6 Juli 2026.

Program ini membawa semangat Merdeka 100 Persen melalui keberanian membaca, merekam, dan mengubah realitas menjadi narasi budaya yang bermakna.

Setiap kali sebuah panggung budaya selesai, tepuk tangan mereda dan penonton pulang. Namun, cerita yang lahir dari peristiwa tersebut sering ikut menghilang.

Kelurahan Winongo memilih jalan berbeda. Masyarakat tidak hanya merayakan budaya, tetapi juga mulai merekam, membaca, dan mengolahnya menjadi narasi visual yang dapat hidup jauh setelah seremoni berakhir.

Melalui workshop tersebut, generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi penonton tradisi. Mereka diajak mengamati lingkungan, menemukan cerita, melakukan wawancara, menyusun sudut pandang, dan menerjemahkan realitas ke dalam film dokumenter.

Pertanyaan penting mengiringi seluruh proses tersebut: siapa yang akan menjaga cerita sebuah kampung apabila bukan masyarakatnya sendiri?

Banyak tradisi lokal tidak menghilang karena kehilangan nilai. Tradisi menghilang karena tidak sempat direkam, ditulis, dan diceritakan kembali kepada generasi berikutnya.

Tabooo Cinema Lab dipandu oleh Wahyu Utami, filmmaker sekaligus dosen Jogja Film Academy. Melalui pengalaman di bidang produksi dan pendidikan film, peserta mendapatkan pemahaman mengenai dasar-dasar dokumenter, pengamatan realitas, pengembangan cerita, serta tanggung jawab pembuat film dalam merepresentasikan masyarakat.

 

Tabooo Book Club: Mempertemukan Literasi, Sejarah, dan Dialog Budaya

Agenda kedua berlangsung pada Selasa, 7 Juli 2026, melalui penyelenggaraan Tabooo Book Club di Balai Kelurahan Winongo, Kota Madiun.

Di tengah arus konten digital yang bergerak cepat, puluhan anak muda memilih berkumpul untuk membaca, berdiskusi, dan menguji gagasan.

Forum tersebut menghadirkan bedah buku Banteng Terakhir Kasultanan Yogyakarta sebagai pintu masuk untuk membicarakan sejarah, kekuasaan, identitas, serta hubungan antara masa lalu dan realitas masyarakat hari ini.

Tabooo Book Club menghadirkan Akhlis Syamsal Qomar, penulis buku Banteng Terakhir Kasultanan Yogyakarta, sebagai narasumber utama.

Diskusi juga melibatkan Septian, sejarawan sekaligus Ketua Historia Van Madiun, yang memperkaya pembahasan melalui perspektif sejarah dan budaya lokal.

Melalui forum tersebut, buku tidak diperlakukan sebagai benda yang selesai setelah dibaca. Buku menjadi ruang pertemuan antara gagasan, pengalaman, sejarah, dan pertanyaan publik.

Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca teks. Literasi juga berarti keberanian mempertanyakan narasi, memahami konteks, dan melihat hubungan antara sejarah dengan kehidupan masyarakat saat ini.

 

Dari Fakta Menjadi Narasi

Bagi Tabooo Cultural Production, kamera bukan sekadar alat perekam. Buku bukan sekadar bahan bacaan. Diskusi bukan sekadar pertemuan.

Semuanya merupakan instrumen untuk memahami realitas.

Lensa kamera menangkap ekspresi para pelaku budaya. Rekaman suara menyimpan kisah yang sebelumnya hanya berpindah melalui percakapan. Wawancara melengkapi cerita yang belum pernah terdokumentasikan secara utuh. Buku membuka akses menuju sejarah, sementara diskusi menguji relevansinya terhadap kehidupan hari ini.

Dari proses tersebut, fakta berkembang menjadi narasi. Narasi melahirkan pengetahuan. Pengetahuan kemudian menjadi dasar terciptanya karya, kolaborasi, dan intellectual property yang mampu bertahan melampaui ruang dan waktu.

 

Menjaga Masa Depan Budaya

Kehadiran Tabooo Cultural Production memperkenalkan pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam merawat tradisi.

Budaya tidak cukup hanya dirayakan. Budaya perlu dicatat, dipahami, dikembangkan, dan diwariskan.

Karena itu, Bersih Desa Winongo tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Perayaan tersebut berkembang menjadi ruang belajar, ruang produksi, ruang dialog, dan ruang pengembangan identitas budaya.

Masa depan tradisi tidak hanya bergantung pada kemeriahan acara. Masa depan tradisi bergantung pada keberanian masyarakat untuk menjaga cerita, mengembangkan pengetahuan, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Tabooo Cultural Production bergerak dari realitas menuju narasi, dari narasi menuju pengetahuan, dan dari pengetahuan menuju warisan budaya yang terus hidup.

 

Website: Tabooo.net | Tabooo.id

  • About
  • Partnership
  • Contact Us
Contact Us: +62-811-1760-919

© 2026 Tabooo - All Rights Reserved by PT Tabooo Network Indonesia.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Company
    • Ecosystem
    • Team
    • Portfolio
    • FAQs
  • CEO Desk

© 2026 Tabooo - All Rights Reserved by PT Tabooo Network Indonesia.